Innalillahi wainnaillahi roji’un.

Denger kabar sepupu meninggal karena diabetes, saya jadi mikir untuk permanen gak konsumsi gula biasa (dan skrg udh 3 tahun).

3 tahun lalu, saya MCU dan liat gula darah saya tinggi, tinggi untuk seusia saya, dan waktu itu gula darah saya lebih tinggi dari seorang bapak paruh baya..
Sejak itu mikir, saya punya keturunan diabetes, dan keturunan diabetes 6x lebih beresiko terserang diabetes, bukan dr orang tua (alhamdulillah mereka normal), tapi dari kakek-nenek. Saya takut seperti asma, yg melompati org tua.

Saya sudah mengurangi gula sejak masih di Jogja, karena di Jogja klo buat minuman pasti manis banget, royal sm gulanya, apalagi di angkringan. Jd selalu minta gulanya dikit atau klo lupa ya gak di aduk gulanya..

3 tahun lalu, saya putuskan tidak mengkonsumsi gula tambahan. Bukan total tidak konsumsi, tp saya membatasi hanya minuman yg saya bikin sendiri yg tidak memakai gula. Dan minuman yg gulanya ambil sendiri, atau yg bs dipesan tanpa gula. Kalau gula sudah tercampur, ya apa boleh buat, kalau gula belum diaduk, saya gak aduk gulanya, dan ini jadi kebiasaan.

1 tahun kemudian, gula darah saya normal (normal untuk seumuran saya).

Kadang sayang, melihat bingkisan ramadan/lebaran ada gula 2 kg, udh hampir 2 tahun gak dikonsumsi, tp ya saya lebih sayang diri sendiri.

Manisnya hidup kita yg tentukan..

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s