The Island of the Apes

Udah 1,5 tahun di Banjarmasin, tapi kesempatan mengunjungi tempat wisata di bumi Antasari ini tidak pernah kesampaian. Hingga kemaren saat Prof. Dr. Enny Sudarmonowati (pakar bioteknologi) berkunjung ke Banjarmasin (8/2/12). Kedatangan Prof. Enny ke Banjarmasin tidak sendiri, Profesor bidang kultur jaringan itu datang bersama dengan Prof. Dr.-Ing. Ir. Kalamullah Ramli, M.Eng, Guru Besar UI. Beliau berdua membicarakan jurnal kami, demi kemajuan para peneliti dan kalangan yang terlibat di dalam jurnal kami. Obrolan tentang jurnal itu disertai dengan buka puasa bersama.

Prof. Enny diajak untuk melihat beberapa wisata di Banjarmasin keesokan harinya (8/3/12), kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mendampingi beliau. Wisata yang dituju adalah Pasar Terapung Kuin (Kuin Floating Market), dan tentunya Pulau Kembang. Perjalanan ke pasar terapung dimulai sejak jam 5 pagi, karena jika sudah mulai pagi pasar akan ‘tutup’. Karena ini bulan Ramadhan, beberapa objek menarik di pasar terapung tidak bisa di nikmati, seperti makan soto diatas kapal, dan tentunya yang berjualan tidak sebanyak hari-hari biasa.

Setelah kami melihat-lihat dan berbelanja beberapa sisir pisang, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang, Pulau seluar 60 Ha yang berada di delta sungai Barito, di arah barat daya kota Banjarmasin, dan tepat di bibir sungai Kuin. Pulau ini terkenal karena merupakan habitat monyet. Perjalanan kesana sekitar 15 menit dari pasar terapung menggunakan perahu yang disewa.

Saat berada di sebelah barat pulau, tempat dermaga pulau Kembang berada, kawan memberitahu “Kacamata sebaiknya dimasukan ke dalam kantong, dan barang berharga disimpan di tempat yang sekiranya monyet gak bisa ambil”.
Awalnya aku gak denger, tapi pas dermaga udah terlihat jelas, dan terlihat berpuluh-puluh ekor monyet yang ‘dikendalikan’ oleh pawang. mulai merasa was-was, dan memasukan kacamata, dompet, dan menyimpan handphone.

Saat kapal berjarak sekitar 3 meter, para monyet dengan agresif-nya melompat, dan meyerbu kami. Prof Enny yang tangguh pun teriak histeris dengan masuknya puluhan ekor monyet kedalam perahu motor yang kami tumpangi. Monyet-monyet itu menyerbu pisang yang kami beli di pasar terapung tadi, bukan cuma yang di sebar di seluruh kapal, tapi pisang yg kami pegang juga di rampas.

“Nenek moyang kita seperti itu” kelakar Prof. Enny, kata sederhana dari seorang profesor dibidang bioteknologi mungkin bukan tanpa arti. Mengingat keidentikan DNA kita dengan monyet, bukan tidak mungkin para monyet itu adalah gambaran sifat alami manusia. Beberapa penelitian menggunakan monyet untuk digunakan sebagai sampling yang sangat identik dengan manusia.Bukan hanya di dunia biologi, bidang sosial pun banyak menggunakan media monyet sebagai objek penelitian.

Salah satu penelitian dibidang sosial yang menggunakan monyet adalah penelitian tetang sifat merusak pada manusia saat terjadinya pertikaian (lupa penelitiannya siapa, yang jelas ini punya orang Amerika :D). penelitian ini mengambil contoh beberapa apes yang ada di afrika. Dan sifat para kera dan monyet itu jika mempertahankan ato memperebutkan sesuatu cenderung merusak. Tidak peduli merusak wilayahnya ato wilayah orang lain. Ini mirip dengan manusia yang cenderung merusak jika mempertahankan ato merebut sesuatu.

Kembali ke Pulau Kembang, sekitar 30 menit berada disana, aku mengamati tingkah dan sifat monyet yaitu :

  1. Tidak sabar;
  2. Individualis;
  3. Tamak;
  4. Serakah, dan
  5. Ingin menguasai sesuatu.

Boleh ku bilang itu adalah sifat dasar manusia. Dan karena evolusi, kita semakin memiliki sifat beragam, tetapi tidak bisa menghilangkan sifat yang sangat amat dasar sekali itu. Hubungan sosial, komunikasi, dan lainnya membuat sifat dasar itu bisa sedikit tertutupi oleh kera modern, manusia. Tetapi masih banyak manusia yang sifat dasarnya itu sangat menonjol walaupun telah berevolusi menjadi manusia modern.

Well, perjalanan ke Island of the Apes ini memberikan banyak hiburan dan tentunya pelajaran, pelajaran berharga tentang sifat dasar manusa, belajar dengan ‘orang’ yang mirip dengan kita yang tidak melaui evolusi tinggi. Belajar mengenai ke-fokusan bekerja dari Prof. Enny, belajar budaya bangsa lain dari Prof. Enny, belajar banyak dari Prof. Enny. Terima Kasih Prof. sampe bertemu dengan nama saya di Jurnal-jurnal ilmiah. 😀

Advertisements

One thought on “The Island of the Apes

  1. Hehehe …. tepat betul barkaca di Pulau Kambang ini. Tapi ada juga “warik” yang “dididik” menjadi pengamen dengan diiringi tetabuhan yang rame. Apakah warik jenis ini masih mempunyai tingkah dan sifat yang 5 macam itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s