Film Mikir

Setahun lalu, gue penasaran sama film terbaru Joko Anwar, Pintu Terlarang. Mau nonton gak pernah sempat, akhirnya gue nanya sama temen yang udah nonton film itu. Jawaban yang  gue terima sangat singkat dan simpel “Jelek”. Gue gak pernah abis pikir kok film Joko Anwar jelek, kok bisa..?? padahal sebelumnya gue gak pernah bosan nonton karya Joko Anwar, seperti Arisan, Jakarta Undercover, Janji Joni, Quickie Express, Kala, dll. biasanya film Joko Anwar belum berhenti kalo filmnya belum habis. Maksud gue, kita gak bisa mengambil kesimpulan dari film itu sebelum film itu bener-bener habis. Tapi kok Pintu Terlarang bisa di cap jelek sama temen gue. udah lah…

Setahun berlalu.. Malem pergantian tahun gue isi dengan menonton ria dengan merental beberapa judul film, dan Pintu Terlarang gue pinjam sebagai bonus, karna gak ada yang dipilih lagi.. Oke, beberapa film berakhir, dan Pintu Terlarang yang mendapat rekomendasi Jelek dari temen masih aja belum gue tonton. Pas lagi asik nonton film terakhir, tiba-tiba berenti gak ada sebab, gue keluarin DVD-nya dan melihat baretan-baretan di DVD itu.. wah, gagal nonton.. Tapi gue masih punya film jelek itu..

115 menit berlalu, gue bingung terdiam. Ancrit, manteb abis..!!! kok bisa film sebagus ini di bilang jelek sama temen gue. Film thriller psikologis, film mikir, film yang membuat penasaran sampe akhir (Malah sampe film berakhir masih penasaran). Bukan sekedar mencerna, tetapi dibutuhkan kunyahan untuk mendapatkan rasa yang ada di film itu. mungkin aja temen gue itu termasuk penonton di kategori penikmat hiburan, bukan penikmat film.

Aneh, saat menonton film di bioskop mulai menjadi hal yang wajib untuk mendapatkan hiburan di Tanah Air tercinta ini, para penontonnya masih aja gak bisa mencerna tayangan lebar yang ada di hadapan mereka. Para penonton kadang hanya memikirkan film = hiburan, hiburan = gak perlu mikir, gak perlu mikir = gak pusing. Jadi mungkin para penonton hanya menginginkan film ber-plot datar, jalan cerita statis, dan efek dinamis. Untuk para film maker d Holywood gak jadi masalah membuat film ber-plot datar, dan efek menggelegar. Tapi untuk film Indonesia, membuat film dengan efek sebagus film Holywood mungkin belum saatnya, tapi dengan mengesampingkan efek dan mengedepankan cerita, mungkin bisa. Gak cuman menampilakn bagian-bagian vulgar dan sensual, tapi juga memberikan rasa nyaman dengan penjelasan kena sasaran seperti film Pintu Terlarang tadi.

Ha..h.a…ha…ha… aneh ya menulis tentang perfilman itu, sedangkan gue bukan berlatar belakang seorang kritikus atau apalah namanya, gue hanya penikmat film yang menyukai film bukan karena efek, bukan karena panjangnya antrian, tapi gue penikmat film untuk hiburan yang gak membosankan. Mau film seperti apa, asalakan ada waktu gue nonton, walopun cuman beberapa orang di dalem studio, gue tetap nikmatin film seperti menikmatin makanan yang udah gue pesan. Asem, Pedas, Asin, itu udah menjadi rasa tersendiri bagi gue. Klo gak sempat ya seperti di awal tulisan tadi, rental film. Karna gak mungkin sekarang untuk membeli Film (pastinya original.. he…he..he..) seperti yang sering gue lakuin waktu dari SD sampe SMA.

Well, nikmati film itu.. ikutin aja rasanya.. jangan langsung di telan, tapi di kunyah dulu. Pasti kita dapet rasa film itu, ya jangan seperti temen tadi, filmnya langsung di telan. Alhasil film seKEREN Pintu Terlarang menjadi hambar di tenggorokannya, tetapi di lidah para penikmat, film itu menjadi sebuah karya yang MENAKJUBKAN…!!

Gallery (klik untuk memperbesar 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Film Mikir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s