Setelah beberapa hari bertarung melawan pasukan Virus dari planet Influenza, dan hampir kalah. kemaren gue dapet bantuan dari Planet Nalgestan dengan pasukan khusus Phenylpropanolamine HCl sama Chlorpheniramine Maleate yang membantu gue untuk mengendalikan air terjun Niagaraingus dan tentara Wedangronde UINe yang membuat suhu permukaan dan dalam planet Badangue panas yang akhirnya membuat gue mendapatkan kemenangan…ha….ha….ha… (hore…hore… We are The champions..)

Eniwei, beberapa hari lagi Umat Muslim memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, bulan ke-9 dalam penanggalan Hijriyah yaitu sistem penanggalan dalam Islam. Berbeda sama sistem penanggalan Gregorian / Masehi (sistem penanggalan yang banyak dipake di dunia) dimana hari baru dimulai pada saat jam 00.00, sistem penanggalan dalam Islam (selanjutnya disebut Hijriyah), hari baru dimulai pada saat terbenamnya matahari didaerah tersebut. Ini berarti penanggalan Hijriyah ditentukan oleh posisi bulan, bukan posisi bumi yang berputar pada poros dan mengelilingi matahari. Ini juga berarti di suatu daerah dimulainya awal bulan HIjriyah gak selalu sama.

Menentukan Awal bulan pada kalender Hijriyah juga gak segampang menentukan awal bulan di Kalender Gregorian yang tinggal menggenggam tangan dan menghitung tulang yang nongol di punggung tangan (yang nongol berarti bulan itu punya 31 hari). Diperlukan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan awal bulan.

Penentuan awal bulan ditandai sama munculnya bulan sabit pertama kali ato hilal setelah bulan baru ato ijtimak. Klo hilal gak keliatan pada tanggal 29, itu berarti satu bulan memiliki 30 hari. dan gak ada aturan khusus yang menentukan bulan apa aja yang punya 30 hari, mana yang 29 hari. Itu semua ditentukan sama penampakan Hilal.Gak sama seperti kalender Gregorian yang gue bilang tadi, klo tulangnya muncul berarti harinya 31. Tapi gak selamanya Hilal itu keliatan, klo ada selang waktu antara ijtimak sama terbenamnya matahari terlalu pendek, secara teori fisika hilal mustahil keliatan. Itu karena iluminasi intensiatas cahaya bulan masih redup dibandingkan cahaya langit. jadi hilal dapat keliatan pake mata telanjang klo sudut antara Bulan sama Matahari sebesar 8°.

Bingung ya…??? sama… he…he… Nah, Justru karena itu Umat Muslim, mau gak mau, terima gak terima, seneng gak seneng, suka gak suka, percaya gak percaya, harus bisa menguasai Astronomi. Harus Lho.. jangan kayak gue yang menguasai ilmu “gundukan punggung tangan” untuk menentukan awal bulan Gregorian.

Jujur, karena kapasitas otak gue masih sedikit Homer Sapien (lebih parah dari Homo Sapien), gue juga agak bingung sama tulisan gue. Klo kalian mau lebih jelas, lebih baik tanya aja sama Mbah paling sakti di muka bumi, yaitu Mbah Gugel…he…he…he….