males banget unuk update..males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update…males banget untuk update… males banget untuk update…

Mulai gak mood lagi untuk meng-update blog ini… Ke-gak-mood-an ini juga berputar sampai batas jenuh yang mendekati nilai ke-gak-mau-an menulis lagi… Why…?? apa karena di semester akhir kuliah ini begitu banyak hal yang harus diselesaikan…?? sehingga gak ada waktu lagi untuk menulis lagi.. Atau karena lagi asiknya maen facebook..?? asik Ngaskus..?? Asik ngikutin berita supaya tau siapa Rani..?? Asik update berita flu Babi yang sekarang mau dikalahin sama flu Kuda…?? (<< kayaknya flu bekantan gak lama lagi menyerang, trus ada flu monyet, flu kodok, bangau, sapi, kerbau, dinosaurus, dll…)

Semua yang gue jalanin seperti mengalir, gak terkonsep… semua bermain, mengikuti permainan arus air yang terus mengalir, menghempas, dan menghantam bebatuan.Do you remember? I still remember so much.

I remember never feeling so alive.
Do you remember? I still can’t forget your touch.
We swore that we would never end; We knew our love transcended space and time.

ha..h.a..ha..
sepenggal kata dari lagunya Stabbing Westward, gak ada hubungannya sama postingan ini.. cuman mau share (klik sini, klik kanan > save as)
yang mau dengerin ya monggo.. silahkan..

Akhir-akhirni gue suka emosi sendiri, gak ada angin ato hujan, gue bawaannya emosi terus.. tanya kenapa…??? Gue juga lagi dilema, antara jual FXR gue, sama pertahanin.. wah… stressss…..

The Man Who Wasn’t Darwin
Alfred Russel Wallace charted a great dividing line in the living world—and found his own route to the theory of evolution.

hobby baca gue udah menurun drastis, dan berbagai macam buku udah menumpuk untuk  ‘dimanjakan’.Dari sekian jurnal-jurnal yang gue terima hanya ada satu yang menarik hati untuk dibaca, judulnya “Di bawah bayang-bayang Darwin”. Entah kenapa nama “Darwin” selalu bisa menarik untuk di ketahui. Ini bukan mengenai kesalahan Teori Darwin yang dialami diri gue, yaitu kegagalan dalam berevolusi, tapi cerita tentang seorang Ilmuan yang terlupakan namanya, dan namanya selalu ada di belakan nama besar Darwin.

Itu bukan hal yang menarik untuk dibicarakan, apalagi diangkat menjadi sebuah kajian dalam ilmu pengetahuan. Yang menarik adalah riset yang dilakukan oleh Alfred R. Wallace, beliau melakukan riset di Indonesia…!!! Secara tidak langsung, Alfred R. Wallace mengiklankan Indonesia sebagai ‘Laboratorium Geo-Biodiversity Dunia’ yang menarik untuk di kaji lebih dalam.

Alfred Russel Wallace, terkesima saat pertama kali menginjakan kakinya di Pulau Sulawesi pada tahun 1969. Ilmuan sejarah alam Inggris itu begitu tercengang melihat betapa kayanya keanekaragaman hayati pulau ini. “Terletak persis ditengah-tengah kepulauan , dikelilingi erat oleh pulau-pulau yang disekitarnya yang penuh dengan beranekaragaman varian makhluk hidup, sulawesi memiliki jumlah spesies edemis yang mengagumkan” tulisnya dalam The Malay Archipelago (1869)

Pulau Ternate cuma berupa kerucut gunung api kecil nan anggun yang mencuatkan warna hijau dau ke permukaan segara di bagian timur-laut Indonesia. Meskipun pulau itu terpencil, Ternate pernah menjadi pusat perniagaan kerajaan Belanda, karena dari situlah rempah-rempah dan komoditas tropis lainnya dikapalkan ke Eropa. Lereng pulau itu jika kita beruntung, kita masih dapat menyaksikan burung yang cemerlang, berdada hijau terang dengan dua bulu putih panjang bergantung mirip jubah dibahunya. Nama ilmiah burung itu ‘Semioptera wallaci’ disematkan untuk menghormati orang yang pertama kali memperkenalkannya kepada dunia ilmu pengetahuan. Dialah Alfred Russel Wallace adalah seorang naturalis muda dari inggris yang melakukan penelitian lapangan di Nusantara pada akhir 1850-an hingga awal 1860-an. Dari ternate pada 9 Maret 1858, dia mengirimkan surat berisi kumpulan catatn dan makalah penelitiannya lewat kapal pos Belanda yang berlayar ke Eropa.

Surat untuk Darwin

Saat menyusun teori evolusinya pada tahun 1858, Wallace mengenal Darwin hanya dari surat menyurat. Di kemudian hari mereka bertaman akrab.

Surat itu dialamatkan ke Charles Darwin dan Wallace melampirkan makalah singkat berjudul “On the Tendency of Varieties to depart indefinitely from the Original Type” (kecenderungan varietas untuk memisahkan diri secara tidak terbatas dari Tipe Aslinya).  Makalah itu adalah hasil dari spekulasi dan penelitian yang cermat lebih dari sepuluh tahun dan ditulis dengan tergesa-gesa selama dua malam (bisa diliat dari tulisan diatas..^_^x). Apa yang diuraikan dalam makalah itu adalah sebuah teori evolusi (meskipun gak dinamakan demikian) melalui seleksi alam (juga gak memakai frasa itu) yang sangat mirip dengan teori yang sudah dikembangkan, tapi belum di publikasikan oleh Darwin yang kala itu sudah menjadi naturalis terpandang.

Ini adalah babak klasik dalam sejarah ilmu pengetahuan, rumusan yang nyaris hadir serempak tentang apa yang saat ini kita pikir sebegai Teori Darwin yang merupakan karya Darwin dan seorang pemula muda, Alfred Russel Wallace. Wallace yang semasa hidupnya terkenal sebagai mitra yunior Darwin dan karena sumbangsihnya yang lain terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial, terlupakan setelah ia berpulang tahu 1913.

Beberapa dasawarsa belakangan ini, kemasyurannya dihidupkan kembali. Fotonya kini digantung disamping foto lama Darwin di dalam ruang rapat Linnean Society di London. Kepada perkumpulan ilmiah inilah penemuan bersama Darwin-Wallace diumumkan 150 tahun lalu pada 1 Juli 1858 malam. Berbagai tulisan Wallace tentang beraneka pokok bahasan, dari teori evolusi dan keadilan sosial sampe kehidupan di Mars juga hadir kembali dalam bentuk cetak maupun On-Line.

Wallace dikenal dikalangan ahli sejarah ilmu pengetahuan sebagai pendiri biogeografi evolusi (kajian tentang spesies apa, tinggal dimana, dan mengapa), khususnya sebagai perintis biogeografi pulau, sebagai ahli teori awal tentang mimikri adatif, dan sebagai tokoh yang menyerukan tentang apa yang sekarang ini kita kenal sebagai keanekaragaman hayati. Artinya, Wallace adalah tokoh yang sangat penting dalam masa transisi dari sejarah alam gaya-lama ke biologi modern.

Wallace juga seorang kolektor yang produktif, penuai keajaiban alam yang tak kenal belas kasih; Spesimen serangga dan burung miliknya memperkaya koleksi museum dan ilmu Taksonomi. Namun tetap saja, kabanyakan orang yang mengenal Alfred Russel Wallace hanya mengenalnya sebagai mitra yang ada di bawah bayang bayang Charles Darwin, orang yang bersama-sama menemukan teori Evolusi melalui seleksi alam tetapi tidak mendapatkan penghormatan yang setara.

bersambung…

GALLERY :
(klik untuk memperbesar gambar)


Next Page »